02
May
|
Written by ekasaputra
|
|
Friday, 02 May 2008 |
 Pemandangan Anak Laut Sebuah pulau kecil yang terletak di titik koordinat antara 95° 13' 02" dan 95° 22' 36" Bujur Timur, dan antara 05° 46' 28" dan 05° 54' 28" Lintang Utara. Pulau yang katanya adalah paling barat letaknya dari gugusan negara kepulauan Indonesia. Weh , nama pulau ini. Weh dalam bahasa Aceh artinya “pergi” atau juga ungkapan untuk mengusir. Konon, menurut cerita dari mulut kemulut, pulau ini dulunya adalah bagian dari daratan Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di sekitar wilayah Krueng Raya. Namun karena ada suatu kejadian, maka sebagian orang yang tinggal agak berjauhan orang yang mendiami suatu wilayah di sana, mereka diusir. Ternyata yang diusir bukan saja orangnnya, tetapi tempat tinggal beserta gunung dan sawahnya, sehingga daerah mereka terpisah dari daratan luas Aceh. Betul atau tidak cerita di atas, hanya Allah swt. yang tahu. |
|
Read more...
|
|
11
Jan
|
Written by ekasaputra
|
|
Friday, 11 January 2008 |
|
K asus sengketa tanah di Indonesia seakan tidak ada habis-habisnya di bicarakan, mulai dari penggusuran, sampai dengan perampasan secara sepihak, bahkan ada juga dengan cara mengklaim dan menggunakan intimidasi dan kekerasan untuk mendapatkan sebidang tanah. Tanah adalah sumber kehidupan, tempat berdiam dan bermukim, juga harta yang sangat berharga, maka tidak jarang sebagian masyarakat menganggap tanah merupakan sebuah harga diri dan kehormatan yang harus dipertahankan. Jika kita ingin menghitung jumlah kasus tanah di tanah air, hampir mencapai 3.000 kasus (Republika.co.id , 23/05/2007). Menurut Kepala BPN Pusat, setidaknya ada tiga hal utama yang menyebabkan terjadinya sengketa tanah:
|
|
Read more...
|
|
11
Jan
|
Written by ekasaputra
|
|
Friday, 11 January 2008 |
|
U ndang-undang Pokok Agraria 1960 atau sering di sebut dengan UUPA-60, merupakan satu-satunya alat yang bisa digunakan oleh petani dan rakyat dalam memperjuangkan hak-haknya, agar bisa hidup layak di bumi Indonesia. Undang-undang (UU) ini dibuat untuk melindungi petani dan pemilik lahan dari penguasaan sepihak serta perampasan tanah yang tidak adil juga sebagai alat penyelesaian konflik sengketa tanah. |
|
Read more...
|
|
13
Dec
|
Written by ekasaputra
|
|
Thursday, 13 December 2007 |
|
Seakan-akan kepala ini stress berat, kerjaan banyak yang belum selesai, padahal kegiatan lain juga banyak selaki, salah satunya ya.. ngisi blog ini, yang udah beberapa hari ini kosong melompong. Memang sih, kata orang-orang, kerjaan akhir tahun itu bisa bikin kepala seperti ditimpuk pake buku seberat 2 kg. Kebayang nggak ya… Tapi apa mau dikata, kerjaan itu harus segera selesai sebelum Desember ini berlalu. Jujur, sepertinya aku nggak yakin kalau kerjaan ini akan selesai sebelum tanggal 30 Desember ini. Belum lagi pihak keuangan yang selalu ngoceh, minta laporan keuangan program yang belum aku selesaikan. Rasanya mau pecah aja kelapa ini, eh kepala maksudnya. :D |
|
Read more...
|
|
08
Dec
|
Written by ekasaputra
|
|
Saturday, 08 December 2007 |
|
A ceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam, ia juga salah satu kabupaten yang paling banyak terkena tsunami. Dari 22 kecamatan yang ia miliki, ada enam kecamatan yang hampir sebagian maupun keseluruhan yang ada di kecamatan tersebut disapu oleh tsunami. Sebut saja Kecamatan Mesjid Raya, Baitussalam, Lhoknga, Peukan Bada, dan Lhoong. Pasca tsunami, Aceh Besar kini bangkit perlahan tapi pasti. Pengungsi tidak lagi tinggal di barak, katanya sih, mereka sudah di bangun rumah bantuan. Tapi, seperti keluar dari mulut buaya, trus di terkam macam. Rupanya, banyak rumah bantuan itu terbuat dari asbes. Padahal, menurut penelitian asbes sangat berbahaya bagi tubuh. Bahkan pernah di temukan ada orang meninggal karena kanker yang di sebabkan oleh debu asbes. |
|
Read more...
|
|
27
Nov
|
Written by ekasaputra
|
|
Tuesday, 27 November 2007 |
|
B eberapa hari yang lalu, aku sama bang Pay (bos ku di SULoH ) jalan-jalan untuk membeli alat-alat kebutuhan pelatihan yang sedang sedang kami kelola. Alat yang ingin kami beli itu, memang agak susah di cari. Fasilitatornya (orang yang mengelola training) minta dibeliin terompet. Aku sempat mikir, ini kan bukan momen tahun baru, atau momen-momen dimana orang-orang menjual terompet di kaki lima. Kami sempat kebingungan, inisiatif aku sarankan untuk diganti dengan pluit aja. Tapi mereka (fasilitator) membalas SMS “jangan, macam tukang parkir aja”. Apa boleh buat, kamipun keliling kota Banda Aceh untuk mencari hajatan fasilitator tersebut. Semua toko mainan anak-anak kami datangi, tapi tidak ada satupun yang menjual terompet. |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
| Results 1 - 7 of 8 |